1001 Makalah
semua makalah ada disini
Jumat, 16 Januari 2015
Sabtu, 18 Oktober 2014
MAKALAH PEMBUATAN CANGKANG KAPSUL DENGAN BAHAN ALGINAT
MAKALAH
TEKNOLOGI FARMASI SEDIAAN PADAT
NAMA
NIM
KEL.PRAKTIKUM/KELAS
JUDUL :
:
:
:
PEMBUATAN CANGKANG KAPSUL DENGAN BAHAN ALGINAT
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2013
Daftar isi
PENDAHULUAN
• Latar belakang .............................................................................3
• Rumusan masalah..........................................................................3
TINJAUAN PUSTAKA
• Kapsul...........................................................................................4
• Stabilitas kapsul............................................................................4
• Alginat..........................................................................................4
• Gel................................................................................................5
• Ponceau 4R.................................................................................. 5
METODOLOGI PENELITIAN
• Alat –alat .....................................................................................7
• Bahan-bahan.................................................................................7
• Pembuatan cangkang kapsul kalsium alginat...............................7
PENGUJIAN
• Uji Waktu Hancur (Disintegrasi).........................................................8
• Penentuan Spesifikasi Cangkang Kapsul.............................................8
• Pengukuran Panjang dan Diameter Cangkang Kapsul Panjang dan....8 diameter cangkang kapsul diukur menggunakan jangka sorong.
• Pengukuran Ketebalan Cangkang Kapsul............................................8
• Penimbangan Berat Cangkang Kapsul.................................................8
• Penimbangan Volume Cangkang Kapsul.............................................8
• Penimbangan Warna Cangkang Kapsul...............................................8
• Uji kadar uap air...................................................................................9
• Uji kekerasan .......................................................................................9
• Uji stabilitas .........................................................................................9
PENUTUP
• Kesimpulan....................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin; tetapi dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai. (Ditjen POM,1995)
Kapsul keras biasanya terbuat dari gelatin yang terdiri dari cangkang kapsul bagian badan dan bagian tutup kapsul. Kedua bagian tutup kapsul ini akan saling menutupi bila dipertemukan dan bagian tutupnya akan menyelubungi
bagian badan kapsul. (Ansel, 2005).
Gelatin mempunyai beberapa kekurangan, seperti mudah mengalami peruraian oleh mikroba bila dalam keadaan lembab atau bila disimpan dalam larutan berair . Sebagai contoh yang lain, cangkang kapsul gelatin menjadi rapuh jika disimpan pada kondisi kelembaban relatif yang rendah (Chang, R.K. et al, 1998). Selanjutnya, Kapsul gelatin tidak dapat menghindari efek samping obat yang mengiritasi lambung, seperti Indometasin. Hal ini dikarenakan kapsul gelatin segera pecah setelah sampai di lambung.
Belakangan ini, beberapa bahan telah diuji untuk digunakan sebagai bahan alternatif gelatin sebagai bahan untuk pembuatan cangkang kapsul, salah satunya adalah dengan alginat. Dimana alginat memiliki beberapa kelebihan dibandingkan gelatin. Pemilihan alginat didasarkan pada laporan sebelumnya yaitu secara klinis alginat mempunyai kemampuan melindungi permukaan mukosa lambung dari iritasi (Shiraishi, et al., 1991) dan relatif lebih tahan terhadap penguraian mikroba dibandingkan gelatin.
1.2 Rumusan masalah
• Apa itu sediaan kapsul ?
• Bagaimanakah peruntukkan dan stabilitas sediaan kapsul ?
• Mengapa alginat dipilih sebagai bahan utama pembuatan cangkang
Kapsul ?
• Apa kelebihan alginat ?
• Bagaimana cara pembuatan cangkang kapsul ?
• Apa saja evaluasi yang dilakukan terhadap cangkang kapsul setelah
dibuat ?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kapsul
Kapsul dapat didefinisikan sebagai bentuk sediaan padat, dimana satu macam obat atau lebih dan/atau bahan inert lainnya yang dimasukkan ke dalam cangkang atau wadah kecil yang dapat larut dalam air. Pada umumnya cangkang kapsul terbuat dari gelatin. Tergantung pada formulasinya kapsul dapat berupa kapsul gelatin lunak atau keras. Bagaimana pun, gelatin mempunyai beberapa kekurangan, seperti mudah mengalami peruraian oleh mikroba bila menjadilembab atau bila disimpan dalam larutan berair. (Ansel, H.C., 2005)
Kapsul tidak berasa, mudah pemberiannya, mudah pengisiannya tanpa persiapan atau dalam jumlah yang besar secara komersil. Didalam praktek peresepan, penggunaan kapsul gelatin keras diperbolehkan sebagai pilihan dalam meresepkan obat tunggal atau kombinasi obat pada perhitungan dosis yang dianggap baik untuk pasien secara individual. Fleksibilitasnya lebi menguntungkan daripada tablet. Beberapa pasien menyatakan lebih mudah menelan kapsul daripada tablet, oleh karena itu lebih disukai bentuk kapsul bila memungkinkan. Pilihan ini telah mendorong pabrik farmasi untuk memproduksi sediaan kapsul dan dipasarkan, walaupun produknya sudah ada dalam bentuk sediaan tablet.
2.2 Stabilitas Kapsul
Perlu diketahui bahwa cangkang kapsul bukan tidak reaktif, secara fisika atau kimia. Perubahan kondisi penyimpanan seperti temperatur dan kelembaban dapat mempengaruhi sifat kapsul. Dengan terjadinya kenaikan temperatur dan kelembaban dapat menyebabkan kapsul menyerap / melepaskan uap air. Sebagai akibatnya kapsul dapat menjadi rapuh atau lunak.
2.3 Alginat
Natrium alginat merupakan produk pemurnian karbohidrat yang diekstraksi dari alga coklat (Phaeophyceae) dengan menggunakan basa lemah. Natrium alginat larut dengan lambat dalam air, membentuk larutan kental; tidak larut dalam etanol dan eter. Alginat (gambar 2.1) ini diperoleh dari spesies Macrocystis pyrifera, Laminaria, Ascophyllum dan Sargassum.
Asam alginat tidak larut dalam air, karena itu yang digunakan dalam industri adalah dalam bentuk garam natrium dan garam kalium. Salah satu sifat dari natrium alginat adalah mempunyai kemampuan membentuk gel denganpenambahan larutan garam-garam kalsium seperti kalsium glukonat, kalsiu tartrat dan kalsium sitrat. Pembentukan gel ini disebabkan oleh terjadinya kelat antara rantai L-guluronat dengan ion kalsium.
2.4 Gel
Gel bisa digolongkan baih dalam sistem dua fase atau dalam sistem satu fase. Struktur gel dalam sistem dua fase ini tidak selalu stabil. Gel-gel tersebut mungkin tiksotropik yang mmbentuk massa setengah padat pada pendiaman dan menjadi cairan jika dikocok.
Sebaliknya, suatu gel mungkin terdiri dari makromolekul-makromolekul yang berupa jalinan/ anyaman benag-benang. Unit-unit tersebut seringkali terikat bersama-sama dengan gaya van der walls yang lebih kuat sehingga membentuk daerah kristal dan daerah amorf diseluruh sistem tersebut. Gel seperti ini dianggap sebagai sistem satu fase, karena tidak ada batas-batas yang jelas antara makromolekul terdispers dan cairan.
Gel dapat dibagi menjadi dua golongan, yakni : gel anorganik dan gel organik. Gel anorganik umumnya merupakan sistem dua fase, sedangkan gel organik merupakan sistem satu fase, karena matriks padat dilarutkan dalam cairan membentuk suatu campuran gelatin yang homogen
2.5 Ponceau 4R
Warna, merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi penilaian konsumen terhadap kualitas produk. Warna suatu bahan dapat berasal dari warna alamiahnya atau warna yang terjadi selama proses pengolahannya. Temperatur dan kadar uap air yang relatif tinggi selama proses pengolahan dan penyimpanan yang berkepanjangan merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan terjadinya reaksi pengcoklatan (enzimatik dan non-enzimatik)
Ponceau 4R adalah pewarna sintetis yang dapat ditambahkan pada makanan. Ponceau 4R adalah pewarna azo merah yang dapat digunakan dalam berbagai produk makanan (Anonim, 2010). Karena zat warna umumnya berada dalam konsentrasi kecil/ rendah, zat warna ini harus terlebih dahulu dilarutkan dalam sejumlah kecil pelarut sebelum dicampurkan dengan sediaan yang dibuat. Hal ini akan menjamin semua zat warna berada dalam keadaan terlarut sebelum proses selanjutnya.
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
. 3.1 Alat-alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan analitis, Oven, Higrometer, termometer, climatic chamber, disintegration tester , pHmeter , anak timbangan 50 g dan 2 kg, desikator, jangka sorong, mikrometer, penunjuk waktu (stopwatch), water bath, alat pencetak kapsul yang terbuat dari batang stainless steel berbentuk silindris dengan panjang 10 cm serta berdiameter 7,5 mm untuk bagian badan cangkang kapsul dan 8,0 mm untuk bagian tutup cangkang kapsul, cawan petri, cawan penguap, bola besi, labu tentukur, beaker glass, gelas ukur, dan botol timbang.
3.2 Bahan-bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Natrium alginat, Ponceau 4R, Titanium dioksida, Gliserin, Kalsium klorida anhidrat, Kalsium klorida dihidrat, HCL, Natrium fosfat, , Silika gel, Alkohol 96% dan Aquades.
3.3.2 Pembuatan cangkang kapsul kalsium alginat
Larutan CaCl2 1 M yang mengandung Ponceau 4R
Kalsium klorida dihidrat (CaCl2 • 2H2O) sebanyak 147,02 g dilarutkan dalam 1000 ml aqua bebas CO2 lalu ditambahkan 2 g ponceau 4R.
3.3.2.1 Pembuatan larutan cangkang alginat
Formula:
Alginat 500-600 cp 5 g
Ponceau 4R 200 mg
TiO2 50 mg
Gliserin 2 g
Aquadest 98 ml
Gliserin dicampur dengan air dan dicukupkan volumenya dengan air sampai 100 ml. Kemudian dimasukan pewarna ponceau 4R dan titanium dioksida kedalam larutan tersebut, diaduk hingga larut.Kemudian diatas larutan tersebut ditebar serbuk alginat, didiamkan selama 30 menit terlebih dahulu baru diaduk hingga homogen. Larutan didiamkan selama beberapa hari sampai tidak ada lagi gelembung udara. Catatan : Sebelum pembuatan, semua alat, wadah dan air yang digunakan disterilkan terlebih dahulu dengan cara direbus.
3.3.2.2 Pembuatan Badan Cangkang Kapsul Kalsium Alginat
Alat pencetak kapsul dibuat dari bahan stainless steel dengan panjang 10 cm diameter 7,5 mm dicelupkan ke dalam larutan natrium alginat yang mengandung ponceau 4R sedalam 3 cm, kemudian batang stainless steel yang ujungnya telah dilapisi larutan alginat yang mengandung ponceau 4R tersebut direndam dalam larutan kalsium klorida 1 M (CaCl2 yang mengandung ponceau 4R) selama 30 menit dan diaduk dengan bantuan pengaduk magnet. Setelah itu cangkang kapsul yang telah mengeras direndam dalam aquadest (aquadest yang mengandung ponceau 4R) selama satu hari untuk menghilangkan kalsium yang menempel pada cangkang kapsul dan selanjutnya dikeringkan.
3.3.2.3 Pembuatan Tutup Cangkang Kapsul Kalsium Alginat
Alat pencetak kapsul dibuat dari bahan stainless steel dengan panjang 10 cm diameter 8,0 mm dicelupkan ke dalam larutan natrium alginat yang mengandung ponceau 4R sedalam 2,5 cm, kemudian batang stainless steel tersebut yang ujungnya sudah dilapisi larutan alginat yang mengandung ponceau 4R tersebut direndam dalam larutan kalsium klorida 1 M (CaCl2 yang mengandung ponceau 4R) selama 30 menit dan diaduk dengan bantuan pengadukmagnet. Setelah itu cangkang kapsul yang telah mengeras direndam dalam aquadest (aquadest yang mengandung ponceau 4R) selama satu hari untuk menghilangkan kalsium yang menempel pada cangkang kapsul dan selanjutnya dikeringkan.
3.3.2.5 Pengeringan Cangkang Kapsul Kalsium Alginat
Ponceau 4r Pengeringan cangkang kapsul dilakukan dengan cara membiarkannya kering di udara terbuka selama 2 hari. Cangkang kapsul dikatakan kering apabila cangkang kapsul tidak basah lagi dan warnanya telah berubah dari merah menjadi merah gelap
BAB IV
PENGUJIAN
4.1 Uji Waktu Hancur (Disintegrasi)
Bola besi berdiameter 2,94 mm dimasukkan ke dalam kapsul sehingga kapsul dapat tenggelam dalam medium. Cangkang kapsul dimasukkan dalam tiap tabung dari keranjang yang dapat dinaik-turunkan kemudian dijalankan alat dalam medium HCl 0,1 N bersuhu 37±2oC selama 2 jam. Kemudian dilanjutkan dalam medium dapar fosfat pH 6,8 bersuhu 37±2oC selama 1 jam. Kapsul memenuhi persyaratan apabila :
a) Dalam medium HCl 0,1 N tidak ada kapsul yang pecah. Bila 1 atau 2 kapsul pecah, diulangi pemeriksaan menggunakan 12 kapsul tambahan. Persyaratan terpenuhi apabila tidak kurang dari 16 dari 18 kapsul yang diuji tidak pecah.
b) Dalam medium dapar fosfat pH 6,8, semua kapsul pecah semua.
4.2 Pengukuran Panjang dan Diameter Cangkang Kapsul Panjang dan diameter cangkang kapsul diukur menggunakan jangka sorong.
4.3 Pengukuran Ketebalan Cangkang Kapsul
Ketebalan cangkang kapsul diukur menggunakan mikrometer. Pengukuran dilakukan 5 kali untuk masing-masing sampel, satu kali di pusat dan 4 kali diperimeter sekitarnya, kemudian diambil rata-ratanya.
4.4 Penimbangan Berat Cangkang Kapsul
Berat cangkang kapsul ditimbang dengan neraca analitik.
4.5 Pengamatan Warna Cangkang Kapsul
Warna cangkang kapsul diamati secara visual
4.6 Pengukuran Volume Cangkang Kapsul
Pengukuran volume cangkang kapsul dilakukan dengan menggunakan buret dimana cangkang kapsul diisi dengan air sampai penuh.
4.7 Uji Kadar Uap Air
Dengan pemanasan pada suhu 105Oc. Cangkang kapsul ditimbang dan dimasukkan ke dalam botol timbang. Kemudian dimasukkan ke dalam oven sambil dibuka tutup botol timbang tersebut. Panaskan pada suhu 1100C sampai diperoleh berat konstan. Pada waktu oven dibuka, botol timbang segera ditutup dan biarkan dalam desikator sampai suhunya mencapai suhu kamar sebelum ditimbang kembali cangkang kapsul. Berat kapsul dikatakan konstan apabila perbedaan dua kali penimbangan berturut-turut tidak
4.8 Uji kekerasan kapsul
Cangkang kapsul berisi (Uji Ketahanan terhadap Tekanan) Cangkang kapsul diisi dengan amilum manihot, kemudian ditekan denganbeban 2 kg. Diamati kerapuhan kapsul. Uji ini dilakukan terhadap 6 kapsul.
4.9 Uji kekerasan kapsul kosong
Cangkang kapsul kosong dijatuhkan beban seberat 50 g dari ketinggian 10cm. Diamati kerapuhan kapsul. Uji ini dilakukan terhadap 6 kapsul
4.10 Uji stabilitas
Penyimpanan pada Suhu Kamar Cangkang kapsul disimpan dalam botol pada suhu kamar ( 25±20oC, RH 60±5%). Setelah 3 bulan cangkang kapsul dikeluarkan dan dilakukan pengujian
BAB 5
PENUTUP
Natrium alginat merupakan produk pemurnian karbohidrat yang diekstraksi dari alga coklat (Phaeophyceae) dengan menggunakan basa lemah. Natrium alginat larut dengan lambat dalam air, membentuk larutan kental; tidak larut dalam etanol dan eter
Alginat memiliki beberapa kelebihan dibandingkan gelatin. Pemilihan alginat didasarkan pada laporan sebelumnya yaitu secara klinis alginat mempunyai kemampuan melindungi permukaan mukosa lambung dari iritasi (Shiraishi, et al., 1991) dan relatif lebih tahan terhadap penguraian mikroba dibandingkan gelatin.
Setelah cangkang kapsul dibuat dan dikeringkan, maka cangkang kapsul harus memenuhi uji evaluasi yang terdiri antara lain : uji waktu hancur, kekerasan, uji bobot konstan, uji kadar air, uji stabilitas, dll yang prosedurnya hampir sama dengan prosedur evaluasi sediaan tablet , hanya saja kapsul harus memenuhi ketentuan tertentu selama pengujian agar kapsul yang dihasilkan berkualitas tinggi dan sesuai dengan prosedur yang tepat
DAFTAR PUSTAKA
Abdou,M.H (1989 ). Dissolution Bioavailability and bioequivalence. Eston : Mack printing company
Ditjen POM ( 1995 ) Farmakope Indonesia IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI
Daigo (K) (1998 ) Pharmacologycal Studys of sodium alginate 1. Protective Effect of Sodium Alginate on Mucous Membrane of Upper Gastrointestional Track
Gennaro, R.A ( 1990 ) Remington’s Pharmaceuticals Science. Edisi 18. Pensylvania : Mack Publisdhing company
makalah Tablet Effervescent.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah.Swt, Tuhan Yang Maha Esa. Berkat limpahan karunia-Nya, Penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini tentang Tablet Effervescent.
Tak lupa Penulis haturkan terima kasih kepada Dr. rer.nat.Mardiyanto, Apt selaku Dosen Pembimbing pada mata kuliah Teknologi Farmasi yang dengan senantiasa membimbing serta membagi ilmunya kepada Penulis, dan juga teman-teman yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. karena atas pengarahan dan bimbingannya Penulis dapat menyelesaikan laporan ini.
Oleh karena itu, pastinya dalam penulisan laporan ini tidak luput dari kesalahan. Penulis harap pada rekan seperjuangan dapat memberikan kritik dan saran kepada Penulis dalam rangka mencapai kesempurnaan. Agar nantinya dapat bermanfaat bagi Penulis dan rekan-rekan kita lainnya.
Palembang, 6 Mei 2014
Muhammad rizky
Daftar isi
PENDAHULUAN
• Latar belakang............................................................................................3
• Rumusan masalah......................................................................................3
TINJAUAN PUSTAKA
• Tablet effervescent....................................................................................4
• Kelebihan tablet effervescent....................................................................4
• Kekurangan tablet effervescent.................................................................5
PEMBAHASAN
• Bahan bahan yang perlu dipakai pada tablet effervescent.......................7
• Proses pembuatan tablet effervescent........................................................7
• Metode pembuatan tablet effervescent......................................................7
• Analisis bahan yang dipakai.......................................................................8
PENUTUP
• Kesimpulan...........................................................................13
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar belakang
Effervescent didefenisikan sebagai bentuk sediaan yang menghasilkan gelembung gas sebagai hasil reaksi kimia larutan. Gas yang dihasilkan saat pelarutan Effervescent adalah karbon dioksida sehingga dapat memberikan efek sparkling
Tablet effervescent dibuat dengan cara mengempa bahan – bahan aktif dengan campuran bahan – bahan organik seperti asam sitrat, asam tartrat, dan natrium bikarbonat. Bila tablet dilarutkan di dalam air maka akan menghasilkan gas karbondioksida yang akan memecah tablet sehingga tablet dapat melarut dengan cepat. Tablet effervescent memiliki rasa yang enak karena adanya karbonat yang dapat memperbaiki rasa dari si tablet effervescent tersebut sehinggan dapat memberikan rasa yang baik ketika konsumen menggunakannya.
Rumusan masalah :
• Apa itu tablet effervescent ?
• Apa kelebihan dan kekurangan tablet effervescent ?
• Apa saja bahan bahan yang digunakan dalam proses pembuatan tablet effervescentt ?
• Bagaimana cara pembuatan tablet effervescent ?
• Bagaimana cara mengevauasi tablet effervescent ?
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Tablet Effervescent
Effervescent didefenisikan sebagai bentuk sediaan yang menghasilkan gelembung gas sebagai hasil reaksi kimia larutan. Gas yang dihasilkan saat pelarutan Effervescent adalah karbon dioksida sehingga dapat memberikan efek sparkling
Tablet Effervescent dibuat dengan cara mengempa formulasi sari buah dan bahan-bahan aktif berupa sumber asam dan sumber karbonat. Bila tablet effervescent dimasukkan ke dalam air, akan terjadi reaksi kimia antara sumber asam dan sumber karbonat tersebut sehingga membentuk garam natrium dari asam kemudian menghasilkan larutan gas dalam bentuk karbon dioksida (CO2). Reaksinya berjalan cukup cepat dan biasanya dalam waktu kurang dari satu menit. Di samping menghasilkan larutan yang jernih, tablet juga memberikan rasa yang enak karena adanya karbonat yang membantu memperbaiki rasang (rasa seperti air soda)
Reaksi di atas tidak dikehendaki terjadi sebelum effervescent dilarutkan, oleh karena itu kadar air bahan baku dan kelembaban lingkungan perlu dikendalikan tetap rendah untuk mencegah ketidakstabilan produk. Pengendalian akan berlangsung terus secara cepat karena hasil reaksi adalah air. Kelarutan dari bahan baku merupakan salah satu hal yang penting dalam pembuatan tablet effervescent jika kelarutannya kurang baik, maka reaksi tidak akan terjadi dan tablet tidak larut dengan cepat.
Kelebihan Tablet Effervescent
Kelebihan tablet effervescent adalah penyiapan larutan dalam waktu seketika yang mengandung dosis obat yang tepat. Selain itu tablet effervescent dapat menghasilkan gas karbondioksida yang memberikan rasa yang enak karena ada karbonat yang membantu memperbaiki rasa pada beberapa obat tertentu.
Selain praktis dan mudah dibawa, cara penyajiannya lebih menarik bila dibandingkan dengan dengan tablet konvensional, dapat diberikan kepada pasien yang mengalami kesulitan dalam menelan tablet atau kapsul, pada saat dikonsumsi zat aktif dalam keadaan terlarut sehingga absorpsinya lebih mudah, dan berguna untuk obat-obat yang tidak stabil apabila disimpan dalam bentuk larutan, jadi obat dapat dibuat dalam bentuk sediaan tablet effervescent agar stabil.
Kekurangan Tablet Effervescent
Disamping mempunyai beberapa keuntungan, tablet effervescent juga memiliki beberapa kekurangan, baik dalam produksi maupun dalam pengemasannya. Ditinjau dari segi produksi, tablet effervescent harus dibuat dalam ruangan khusus yang mempunyai kelembaban relatif 20-25% jadi sulit untuk menghasilkan produk yang stabil secara kimia. Kelembaban udara selama proses pembuatan sudah cukup memulai reaktivitas effervescent, dengan demikian seluruh peralatan termasuk mesin cetak tablet harus berada dalam ruangan khusus. Sedangkan dalam segi pengemasannya, tablet effervescent harus dikemas dalam wadah yang kedap udara sehingga dapat melindungi tablet tersebut dari kelembaban, kelembaban udara di sekitar tablet sesudah wadahnya terbuka juga dapat menyebabkan penurunan kualitas produk, setelah sampai di tangan konsumen, harga yang relatif mahal.
BAB 3
PEMBAHASAN
Tablet effervescent dibuat dengan cara mengempa bahan – bahan aktif dengan campuran bahan – bahan organik seperti asam sitrat, asam tartrat, dan natrium bikarbonat. Bila tablet dilarutkan di dalam air maka akan menghasilkan gas karbondioksida yang akan memecah tablet sehingga tablet dapat melarut dengan cepat. Tablet effervescent memiliki rasa yang enak karena adanya karbonat yang dapat memperbaiki rasa dari si tablet effervescent tersebut sehinggan dapat memberikan rasa yang baik ketika konsumen menggunakannya.
Sediaan effervescent biasanya dibuat dan diolah dari suatu kombinasi asam sitrat dan asam tartrat, karena pemakaian asam tunggal saja akan menimbulkan kesulitan pada pembentukkan granul. Bila asam sitrat saja yang digunakan maka akan menghasilkan campuran lekat dan sukar menjadi granul. Perbandingan asam sitrat,asam tartrat dan natrium bikarbonat yang digunakan yang biasa digunakan adalah 1 : 2 : 3,4.
Bahan-bahan yang dipakai umunya harus tahan panas, mudah dikempa, dan larut dalam air. Bahan baku yang dipakai seperti
1. Sumber asam meliputi bahan bahan yang mengandung asam atau yang dapat membuat suasana menjadi asam seperti asam sitrat, asam tartrat, asam karbonat, asam malat, asam fumarat , dan asam suksinat. Garam asam merupakan sumber asam tetapi hanya sebagai pengganti bahan asam bila ternyata sediaan tidak dapat dibuat dengan asam saja, seperti natrium dihidrogen fosfat. Sedangkan asam anhidrat merupakan asam lain yang merupakan asam yang tidak mengandung air seperti suksinat anhidrat dan sitrat anhidrat.
2. Senyawa karbonat dibutuhkan dalam pembuatan sediaan effervescent untuk menimbulkan gas karbondioksida bila direaksikan dengan asam. Bentuk karbonat maupun bikarbonat keduanya diperlukan untuk menimbulkan reaksi yang menghasilkan karbondioksida seperti natrium karbonat, natrium bikarbonat, dan kalium bikarbonat.
3. Bahan pengisi, biasanya dibutuhkan sedikit dalam pembuatan tablet effervescent ini karena tablet telah mengandung effervesent mix ( bahan bahan tambahan lain sebagai bahan baku pembuatan tablet effervesent. Bahan pengisi yang umum yang dipakai antara lain, glukosa, laktosa, dan maltodekstrin. Namun natrium bikarbonat dapat pula sebagai [engisi yang baik. Syarat yang harus dipenuhi bahan pengisi dalam sediaan tablet effervescent adalah mudah larut dalam air sehingga dapat membentuk larutan yang jernih.
4. Bahan tambahan lain, meliputi bahan obat, bahan pewarna, lubrikan serta bahan perisa. Bahan bahan tambahan lain seperti pemanis , pewarna dll digunakan untuk memberikan penampilan tablet yang menarik dan memberikan rasa nyaman ketika dikonsumsi. Namun syaratnya bahan bahan tersebut larut dalam air.
Secara sederhana proses pembuatan tablet effervescent dibagi menjadi dua
tahap yaitu :
1. Proses pencampuran
Proses pencampuran ini bertujuan untuk mendapatkan massa tablet yang homogen. Tujuan ini dapat dicapai bila sifat partikel penyusun campuran dan faktor lainnya yang mempengaruhi proses pencampuran adalah sama. Sifat fisisdari partikel yang mempengaruhi proses pencampuran adalah ukuran, bentuk, densitas dan kelembaban partikel, sedangkan faktor lainnya adalah kadar partikel. Pada proses pencampuran ini bahan-bahan yang dicampurkan meliputi sumber karbonat, sumber asam, bahan pengikat, bahan pengisi, bahan pelincir, bahan cita rasa dan bila perlu ditambahkan pewarna.
2. Proses pencetakan tablet
Pada prinsipnya, tablet dapat dibuat melalui kempa langsung atau granulasi, baik granulasi basah atau granulasi kering. Untuk menentukan metoda pembuatannya apakah dibuat kempa langsung atau granulasi sangat tergantung pada dosis dan sifat zat aktifnya. Dibandingkan dengan metoda granulasi, metoda kempa langsung dinilai lebih menguntungkan dalam hal penghematan waktu, peralatan, ruangan maupun energi yang dibutuhkan. Namun demikian, untuk metoda kempa langsung ini semua komponen tablet baik zat aktif, bahan pengisi, pengikat dan penghancur harus memiliki sifat alir dann kompresibilitas yang baik. Pada proses pengempaan untuk zat aktif dengan dosis kecil hal ini tidak akan menjadi masalah selama homogenitasnya diperhatikan. Tetapi untuk zat aktif dengan dosis besar, jika sifat alir dan kompresibilitasnya tidak baik diperlukan bahan tambahan yang efektif untuk mengatasi sifat alir dan kompresibilitas.
Pada pembuatan tablet effervescent suhu dan RH (relative humidity) merupakan salah satu faktor yang sangat penting. RH yang rendah dan suhu yang rendah (cool) sangat penting untuk mencegah proses granulasi dan pembentukan tablet dari penyerapan uap air, yang menyebabkan ketidakstabilan tablet. Ruangan ber-RH maksimal 25% dan bersuhu 25oC, merupakan kondisi yang baik untuk proses pembuatan tablet effervescent.
Metode pembuatan tablet effervescent terbagi atas dua yaitu
1. Metode kering
Umumnya digunakan untuk zat zat yang tak tahan lembap atau panas serta rusak bila berinteraksi dengan air. Metode ini meliputi metode pembuatan secra kempa langsung dan granulasi kering yang dilakukan sama seperti pembuatan tablet biasa.
2. Metode basah
Yang termasuk metode ini adalah metode granulasi basah. Metode ini biasa digunakan untuk bahan bahan yang tahan air. Metode granulasi basah juga digunakan untuk bahan bahan pembuatan tablet yang tidak dapat dikempa langsung. Prinsip dari metode ini adalah membasahi masaa tablet dengan larutan pengikat sampai mendapat tingkat kebasahan tertentu, kemudia massa basah digranulasi kemudian granul yang dihasilkan barulah dicetak.
Prosesnya:
1. Cara Pemanasan.
Biasanya komponen asam yang dipanaskan. Karena proses ini sangat tidak konstan dan sulit dikendalikan jarang digunakan.
2. Granulasi dengan Cairan Reaktif.
Bahan penggranulasi yang efektif adalah air. Proses berdasarkan penambahan sedikit air (0,1-0,5%) yang disemprotkan pada campuran sehingga terjadi reaksi menghasilkan granul. Granul yang masih lembab ditransfer ke mesin tablet kemudian dikempa lalu tablet masuk ke dalam oven terjadi proses pengeringan untuk menghilangkan air sehingga tablet menjadi stabil.
3. Granulasi dengan Cairan Non Reaktif.
Cairan yang digunakan adalah etanol atau isopropanol. Cairan ditambahkan perlahan-lahan ke dalam campuran pada mesin pencampur. Dalam hal ini perlu ditambahkan pengikat kering seperti PVP. Setelah itu masa granul dimasukkan ke dalam oven lalu dikeringkan. Kemudian dihaluskan lagi baru dicetak.
Pada proses pembuatan tablet effervescent ini dibutuhkan kondisi khusus dimana nilai RH maksimum yang memenuhi persyaratan yaitu 25 % pada suhu 25 derajat celsius. Hal ini diperlukan untuk menghindari masalah setelah proses pembuatan akibat pengaruh kelembapan. Kondisi tersebut diatas juga diperlukan pada penyimpanan hasil produksi karena hasil yang lembap dapat menginisiasi CO2.
1. Instan jahe merah
Pada pembuatan tablet effervescent ini digunakan sebagai bahan aktif. Jahe merupakan sumber antioksidan dan obat tradisional yang sudah banyak tersebar di Indonesia dan berpotensi untuk dikembangkan. Berdasarkan hasil penelitian dan pengalaman, jenis rempah ini telah terbukti berkhasiat dalam menyembuhkan berbagai penyakit. Selain itu, rempah ini juga digunakan sebagai obat antiin amasi dan penamba nafsu makan
2. Asam sitrat
Sumber asam yang paling umum digunakan dalam pembuatan tablet effervescent adalah asam sitrat dan asam tartarat. Asam sitrat terdapat dalam bentuk serbuk hablur, anhidrat, dan bentuk monohidrat. Asam sitrat bersifat higroskopis sehingga harus dijaga dari masuknya udara terutama bila disimpan dalam ruang dengan kelembaban udara yang tinggi.
Asam sitrat merupakan asam yang umum digunakan sebagai asam makanan dan harganya relatif murah. Asam ini memiliki kelarutan yang tinggi, mempunyai kekuatan asam yang tinggi dan tersedia dalam bentuk granular, anhidrat dan bentuk monohidrat. Selain itu, tersedia juga dalam bentuk serbuk. Asam ini sangat higroskopis, oleh karena itu penanganan dan penyimpanannya memerlukan perhatian khusus.
3. Natrium bikarbonat
Natrium bikarbonat merupakan sumber utama karbondioksida dalam sistem effervescent. Senyawa ini larut sempurna dalam air, tidak higroskopis, tidak mahal, banyak tersedia di pasaran dalam lima tingkat ukuran partikel (mulai dari serbuk halus sampai granula seragam yang mengalir bebas), dapat dimakan dan digunakan secara luas dalam produk makanan sebagai soda kue. Natrium bikarbonat merupakan alkali natrium yang paling lemah, mempunyai pH 8,3 dalam larutan air dalam konsentrasi 0,85%. Zat ini menghasilkan kira-kira 52% karbondioksida.
Sumber karbonat, digunakan sebagai bahan penghancur dan sumber
timbulnya gas yang berupa CO2 pada tablet effervescent. Sumber karbonat yang biasa digunakan dalam pembuatan tablet effervescent adalah natrium karbonat dan natrium bikarbonat. Keduanya adalah yang paling reaktif. Dalam tablet effervescent, sodium bikarbonat merupakan sumber karbon yang paling utama yang dapat larut sempurna, nonhigroskopik, murah, banyak, dan tersedia secara komersial mulai dari bentuk bubuk sampai bentuk granul. Sehingga natrium bikarbonat lebih banyak dipakai dalam pembuatan tablet effervescent.
4. Asam tartrat
Memiliki bentuk hablur, tidak berwarna, tidak berbau, berasa asam, stabil di udara, serta memiliki daya larut yang tinggi dalam air.
5. Mannitol
Manitol dengan rumus kimia C6H14O6 atau D-mannitol; 1,2,3,4,5,6 hexane hexol merupakan monosakarida poliol dengan nama kimia manitol berbentuk kristal berwarna putih, tidak berbau, larut dalam air, sangat sukar larut dalam alkohol dan tidak larut hampir dalam semua pelarut organik.
Meskipun manitol memiliki gula alkohol yang relatif rendah yang mempunyai efek pendingin yang biasanya ditemukan dalam permen mint. Namun, ketika manitol benar-benar di larutkan dalam produk menginduksi efek pendinginan yang kuat. Selain itu mempunyai sifat higroskopis yang sangat rendah yang tidak akan mengambil air dari udara sampai tingkat kelembaban 98%. Rasa yang menyenangkan dan mouthfeel dari manitol juga membuatnya menjadi populer untuk tablet kunyah.
6. Polietilenglikol 8000
PEG 8000 merupakan suatu lubrikan tablet effervescent yang paling efisien karena dapat terdispersi dengan air sehingga menghasilkan larutan effervescent yang jernih saat dilarutkan ke air. Konsentrasi yang dipakai berkisar 1,5 %. Mempunyai pemerian serbuk putih hablur , larut dalam air, dam memounyai tingkat ke-higroskopisan yang rendah dibandng jenis PEG lain.
7. Polyvinil Alkohol ( PVA )
Pada formulasi tablet banyak dipakai sebagai bahan matriks tablet lepas lambat, pengikat, dan sebagai bahan salut film pada tablet. Konsentrasi yang dipakai antara 5-7 % .
Evaluasi sediaan
Beberapa evaluasi perlu dilakukan untuk menguji tablet yang telah diproduksi demi mengetahui kualitasnya sebelum dijual dan sampai ke tangan konsumen.
Evaluasi yang dilakukan terbagi atas dua tahap yaitu saat fase granul dan saat fase tablet. Prosedur yang dilakukan dan ketentuannya sama persis dengan pembuatan tablet biasa.
1. Evaluasi massa tablet
a. Waktu alir ( ideal 10 gram/s )
b. Sudut diam ( ideal 20-40 derajat )
c. Bobot jenis
d. Uji kompresibilitas ( Dengan mengukur tap dan bulk density )
e. Uji kadar air ( Maksimum 10 % untuk tablet effervescent )
2. Evaluasi tablet
a. Pemeriksaan organoleptis
b. Waktu hancur ( ideal 5 menit pada suhu 25 derajt celcius untuk tablet effervescent )
c. Keseragaman ukuran ( Menggunakan jangka sorong )
d. Keseragaman bobot ( Dengan menimbang bobot 20 tablet )
e. Kekerasan tablet ( Dengan alat Hardness tester )
f. Uji friabilitas ( Dengan alt Friability tester )
g. Uji pH ( pH harus mendekati netral untuk tablet effervescent )
h. Uji kadar air ( maksimum 10 % untuk tablet effervescent )
BAB 4
PENUTUP
Effervescent didefenisikan sebagai bentuk sediaan yang menghasilkan gelembung gas sebagai hasil reaksi kimia larutan. Gas yang dihasilkan saat pelarutan Effervescent adalah karbon dioksida sehingga dapat memberikan efek sparkling.
Tablet effervescent dibuat dengan cara mengempa bahan – bahan aktif dengan campuran bahan – bahan organik seperti asam sitrat, asam tartrat, dan natrium bikarbonat dan juga bahan bahan pendukung tablet lainnya seperti lubrikan, disintegran, dan lain-lain. Bila tablet dilarutkan di dalam air maka akan menghasilkan gas karbondioksida yang akan memecah tablet sehingga tablet dapat melarut dengan cepat.
Metode pembuatan tablet effervescent terbagi atas dua yaitu metode kering dan metode basah. Metode kering terdiri atas kempa langsung dan granulasi kering, sementara metode basah yaitu dengan granulasi basah.
Kelebihan tablet effervescent adalah penyiapan larutan dalam waktu seketika yang mengandung dosis obat yang tepat. Selain itu tablet effervescent dapat menghasilkan gas karbondioksida yang memberikan rasa yang enak karena ada karbonat yang membantu memperbaiki rasa pada beberapa obat tertentu. Disamping mempunyai beberapa keuntungan, tablet effervescent juga memiliki beberapa kekurangan, baik dalam produksi maupun dalam pengemasannya. Ditinjau dari segi produksi, tablet effervescent harus dibuat dalam ruangan khusus yang mempunyai kelembaban relatif 20-25% jadi sulit untuk menghasilkan produk yang stabil secara kimia
DAFTAR PUSTAKA
Ansel, H., 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi ke – 4. UI Press. Jakarta
Harler. 1997. Tea Manufacturing. Oxford University Press. London
Hui, Y.H., 1992. Encyclopedia of Food Science and Technology. Jhon Wiley and Sons Inc. New York
Voight, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Edisi Kedua. Penerjemah Soendari. Gajah Mada University Pers. Yogyakarta
Rabu, 08 Oktober 2014
MAKALAH PEMBUATAN KOMPOS SEDERHANA
PEMBUATAN KOMPOS SEDERHANA
Makalah
“Disusun dalam rangka pengambilan nilai mata pelajaran Pertamanan”
Disusun Oleh :
Marisa Elvin
Putri Chandrika Kinanti
SMA NEGERI 1 LUBUKLINGGAU
TERAKREDITASI “A”
Jl.Garuda KM 2 Kel. Pelita Jaya Telp/Fax. (0733)321629 Kota Lubuklinggau
TAHUN AJARAN 2011/2012
ABSTRAK
Penelitian ini menggunakan kotoran sapi, sampah atau dedaunan,dan air. Penelitian dipercepat dengan menggunakan aktivator orgradec atau promi.Kompos umumnya mengalami kematangan pada hari ke-30, sedangkan kompos sederhana ini memakan waktu yang lebih cepat. Pengolahan kompos seperti ini akan lebih mudah dilakukan oleh rumah tangga, sehingga sampah rumah tangga tidak langsung dibuang karena masih dapat dimanfaatkan dengan cara pengolahan yang mudah juga bernilai ekonomi tinggi. Semakin mudah pembuatan kompos maka akan semakin banyak orang yang tertarik membuatnya, sehingga produksi sampah akan terus menurun. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan besarnya manfaat yang ditimbulkan dari pengolahan kompos, akan berdampak sangat baik dengan keberlangsungan hidup di lingkungan hidup masing-masing.
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan berkah-Nya yang telah dilimpahkan kepad akita, sehingga karya tulis ini bisa terselesaikan, dalam penulisan karya tulis ini penulis telah banyak mendapatkan bantuan, bimbingan, serta dorongan dari beberapa pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Kedua Orang Tua kami yang telah memberi dukungan material maupun spiritual.
2. Ibu Kepala SMAN 1 Lubuklinggau, Dra. Ika Irmaita.
3. Ibu Eva Gusseventini,S.Pd selaku guru pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada kami.
4. Semua pihak yang telah member bantuannya sehingga penulis mampu menyelesaikan karya ilmiah ini.
Kami menyadari bahwa karya tulis ini jauh dari sempurna karena masih banyak kekurangan baik dari segi isi, penulisan maupun pembahasan. Namun demikian penulis berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Akhir kata semoga amal dan kebaikan yang telah diberikan oleh semua pihak yang telah membantu dalam penulisan karya ilmiah ini mendapatkan balasan dari Allah SWT, Amin.
Lubuklinggau, Mei 2012
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………………………………………………….... i
ABSTRAK ………………………………………………………………… ii
KATA PENGANTAR …………………………………………………….. iii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………. Iv
BAB I Pendahuluan
1.1. Latar Belakang ……………………………………………………..
1.2. Perumusan Masalah ………………………………………………...
1.3. Tujuan Penulisan …………………………………………………...
1.4. Manfaat Penulisan ………………………………………………….
1.5. Metode dan Teknik Pengumpulan Data..............................................
BAB II Tinjauan Pustaka
2.1. Pengertian Kompos……………………………………………………..
2.2. Pengertian Pengomposan……………………………
2.3. Alat dan Bahan Dalam Pengomposan …………………………………
2.4. Faktor yana Mempengaruhi Proses Pengomposan……………………
BAB III Pembahasan
3.1. Manfaat Kompos …………………………………………………...
3.2. Proses Pengomposan …………………………………………
3.3. Meningkatkan Kualitas Kompos ………………………
BAB IV Penutup
4.1 Simpulan …………………………………………………………..
4.2 Saran ………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………..
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Secara alami bahan-bahan organik akan mengalami penguraian di alam dengan bantuan mikroba maupun biota tanah lainnya. Namun proses pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat. Untuk mempercepat proses pengomposan ini telah banyak dikembangkan teknologiteknologi pengomposan. Baik pengomposan dengan teknologi sederhana, sedang, maupun teknologi tinggi. Pada prinsipnya pengembangan teknologi pengomposan didasarkan pada proses penguraian bahan organic yang terjadi secara alami.
Proses penguraian dioptimalkan sedemikian rupa sehingga pengomposan dapat berjalan dengan lebih cepat dan efisien. Teknologi pengomposan saat ini menjadi sangat penting artinya terutama untuk mengatasi permasalahan limbah organic, seperti untuk mengatasi masalah sampah di kota-kota besar, limbah organik industry, serta limbah pertanian dan perkebunan.
Dalam makalah ini akan disampaikan tentang manfaat kompos, proses pembuatan kompos yang sederhana, dan bagaimana meningkatkan kualitas kompos.
1.2. Perumusan Masalah
Merujuk pada latar belakang masalah di atas maka kami membuat rumusan masalah sebagai berikut.
1 Apakah manfaat kompos?
2 Bagaimana dengan proses pengomposan?
3 Bagaimana meningkatkan kualitas kompos?
1.3. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut.
1 Mengetahui manfaat kompos
2 Mengertahui proses pengomposan
3 Mengertahui cara meningkatkan kualitas kompos
1.4. Manfaat Penulisan
Hasil penulisan karya tulis ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. Dengan begitu pembaca dapat mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan kompos dan pengomposan tersebut diatas.
1.5. Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang lengkap dan objektif penulis menggunakan metode:
1. Studi pustaka , yaitu mempelajari dari berbagai sumber (internet , surat kabar, media massa, buku) yang dapat menunjang proses penulisan karya tulis ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Kompos
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahanbahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003).
2.2. Pengertian Pengomposan
Pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikrobamikroba yang memanfaatkan bahan organic sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan activator pengomposan.
2.3. Alat dan Bahan Dalam Pengomposan
BAHAN:
Limbah organik rumah tangga, sampahsampah organik pasar/kota, kertas, kotoran/limbah peternakan, limbah-limbah pertanian, limbah-limbah agroindustri, limbah pabrik kertas, limbah pabrik gula, limbah pabrik kelapa sawit, dll.
ALAT :
Parang/sabit, embar/bak platik untuk menampung air, ember untuk menyiram, plastik penutup, tali, sekop garpu/cangkul, dan cetakan kompos (jika diperlukan). Plastik penutup dapat menggunakan plastik mulsa yang berwarna hitam. Belah plastik tersebut sehingga lebarnya menjadi 2 m. Panjang plastik disesuaikan dengan banyaknya bahan yang akan dikomposkan. Cetakan kompos dapat dibuat dari bambu atau kayu. Cetakan ini terdiri dari 4 bagian terpisah, dua bagian berukuran kurang lebih 2 x 1 m dan dua lainnya berukuran 1 x 1 m.
2.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Pengomposan
Rasio C/N
Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 30: 1 hingga 40:1
Ukuran Partikel
Aktivitas mikroba berada diantara permukaan area dan udara. Permukaan area yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Ukuran partikel juga menentukan besarnya ruang antar bahan (porositas).
Aerasi
Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup oksigen(aerob).
Porositas
Porositas adalah ruang diantara partikel di dalam tumpukan kompos. Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume total. Ronggarongga ini akan diisi oleh air dan udara. Udara akan mensuplay Oksigen untuk proses pengomposan. Apabila rongga dijenuhi oleh air, maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu.
Kelembaban (Moisture content)
Kelembaban memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada suplay oksigen.
Temperatur
Semakin tinggi temperatur akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi.
pH
Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH yang optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5
Kandungan hara
Kandungan P dan K juga penting dalam proses pengomposan dan bisanya terdapat di dalam komposkompos dari peternakan. Hara ini akan dimanfaatkan oleh mikroba selama proses pengomposan.
Kandungan bahan berbahaya
Beberapa bahan organik mungkin mengandung bahanbahan yang berbahaya bagi kehidupan mikroba. Logamlogam berat seperti Mg, Cu, Zn, Nickel, Cr adalah beberapa bahan yang termasuk kategori ini. Logamlogam berat akan mengalami imobilisasi selama proses pengomposan.
Lama pengomposan
Lama waktu pengomposan tergantung pada karakteristik bahan yang dikomposakan, metode pengomposan yang dipergunakan dan dengan atau tanpa penambahan aktivator pengomposan. Secara alami pengomposan akan berlangsung dalam waktu beberapa minggu sampai 2 tahun hingga kompos benar-benar matang.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Manfaat Kompos
Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek:
Aspek Ekonomi :
1. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah
2. Mengurangi volume/ukuran limbah
3. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya
Aspek Lingkungan :
1. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah
2. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan
Aspek bagi tanah/tanaman:
1. Meningkatkan kesuburan tanah
2. Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah
3. Meningkatkan kapasitas jerap air tanah
4. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
5. Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)
6. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
7. Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman
8. Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah
3.2. Proses Pengomposan
1. Mengumpulkan alat dan bahan terlebih dahulu.
2. Menyiapkan aktivator pengomposan. Aktivator (Orgadec atau Promi) dilarutkan ke dalam air sesuai dosis yang dibutuhkan.
3. Membuat lubang sebagai tempat penbuatan kompos.Ukuran lubang disesuaikan dengan banyaknya kompos yang akan dibuat dengan kedalaman sekitar 60-100 cm.
4. Memotong kecil – kecil dedaunan dan bahan lainnya. Agar proses pengomposan berjalan dengan baik dan cepat maka dedaunan harus dipotong kecil – kecil terlebih dahulu.
5. Mencampurkan dedaunan dengan kotoran sapi. Dedaunan yang sudah dipotong dicampurkan dengan kotoran sapi yang telah disiapkan.
6. Memasukkan campuran tersebut ke dalam lubang yang telah di siapkan.
7. Menyiram media tersebut setiap hari dengan air secukupnya. Agar proses pengomposan berjalan dengan baik, maka media kompos harus mengandung air sekitar 50%.
8. Menutup media tersebut dengan plastik yang telah disiapkan.
9. Setelah 3 minggu kompos siap di panen. Setelah 3 minggu atau media kompos berwujud lumpur hitam yang mengandung air sekitar 50%,kompos siap dipanen.
10. Mengeringkan media tersebut dengan cara di jemur sampai kering.
11. Mengayak kompos tersebut. Setelah kompos kering kompos tersebut diayak agar memperoleh kompos yang halus.
12. Mengemas kompos tersebut ke dalam kantong plastik ukuran ½ kg.
3.3.Cara Meningkatkan Kualitas Kompos
Pengolahan kompos untuk meningkatkan kualitas kompos antara lain dapat dilakukan dengan cara: pengeringan, penghalusan, penambahan dengan bahan kaya hara, penambahan dengan mikroba bermanfaat, pembuatan granul, dan pengemasan.
Pengeringan
Pengeringan berfungsi untuk mengurangi kadar air kompos. Kompos yang baru dipanen kandungan airnya berkisar antara 60 – 70 % atau dapat lebih tinggi lagi apabila terkena air hujan. Kadar air kompos menurut SNI adalah < 50% atau <20% menurut Peraturan Menteri Pertanian No. 02/Pert/HK.060/2/2006. Kadar air yang tinggi berakibat pada tingginya bobot kompos. Hal ini berimplikasi pada meningkatnya biaya pengemasan, biaya angkut, maupuan biaya aplikasi di lapangan. Pengeringan kompos dapat dilakukan dengan menjemur di bawah sinar matahari atau dengan menggunakan mesin pengering.
Penghalusan
Meskipun kompos telah dikeringkan, tetapi ukurannya biasanya masih cukup besar dan tidak seragam. Kompos yang telah kering dapat dihaluskan untuk memperkecil ukuran kompos. Penghalusan dapat dilakukan secara manual, yaitu dengan meremasnya atau menumbuknya. Penghaluskan dapat pula dilakukan dengan bantuan mesin penghalus kompos.
Penambahan Bahan-bahan Kaya Hara
Kompos dapat diperkaya dengan menambahkan bahan-bahan lain yang kaya hara, baik mineral alami maupun bahan organik lain. Bahan-bahan mineral yang kaya hara antara lain: dolomit atau kiserit untuk meningkatkan kandungan Mg, fosfat alam untuk meningkatkan kandungan P, dan zeolit untuk meningkatkan KTK (Kapasitas Tukar Kation) kompos.
Penambahan Mikroba yang Bermanfaat Bagi Tanaman
Kompos dapat diperkaya dengan menambahkan mikroba-mikroba yang bermanfaat bagi tanaman. Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupaun penyerapan unsur hara bagi tanaman.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Simpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh tim penyusun karya tulis ilmiah ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek:
Aspek Ekonomi :
1. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah
2. Mengurangi volume/ukuran limbah
3. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya
Aspek Lingkungan :
1. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah
2. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan
Aspek bagi tanah/tanaman:
1. Meningkatkan kesuburan tanah
2. Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah
3. Meningkatkan kapasitas jerap air tanah
4. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
5. Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)
6. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
7. Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman
8. Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah
Pada dasarnya semua bahan-bahan organik padat dapat dikomposkan, misalnya: limbah organik rumah tangga, sampahsampah organik pasar/kota, kertas, kotoran/limbah peternakan, limbah-limbah pertanian, limbah-limbah agroindustri, limbah pabrik kertas, limbah pabrik gula, limbah pabrik kelapa sawit, dll.
4.2. Saran
Setelah melakukan penelitian dan penyusunan laporan, tim penyusun menyarankan agar nantinya para pembaca dapat menerapkan prinsip dasar pengomposan limbah padat organik, khususnya pengomposan aerobic; beberapa teknologi pengomposan, prosedur pengomposan, dan bagaimana meningkatkan kualitas kompos.
DAFTAR PUSTAKA
Apriadji, Wied Harry. 1989. Memproses Sampah. Seri Teknologi. Cet. keXX11. Penebar Swadaya
Badan Standarisasi Nasional (BSN). 2004. Spesifikasi Kompos dari Sampah Organik Domestik. SNI 1970302004
Djuarnani, Nan; Kristian & Setiawan, B.D., 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. Kiat Mengatasi Permsalahan Praktis. Agromedia Pustaka.
Isroi dan Happy Widiastuti. 2005. Kompos Limbah Padat Organik.
Murbandono. 2006. Membuat Kompos. Edisi Revisi. Cet. keXXXII.
Penebar Swadaya.
Musnawar, Effi Ismawati. 2006. Seri Agriwawasan. Pupuk Organik. Cet. keIV. Penabar Swadaya.
Purwendro, Setyo & Nurhidayat. 2006. Seri Agritekno. Mengolah Sampah untuk Pupuk & Pestisida Organik. Penebar Swadaya.
Simamora, Suhut & Salundik, 2006. Meningkatkan Kualitas Kompos. Meningkatkan Kualitas Kompos. Kiat Menggatasi Permasalahan Praktis. Agromedia Pustaka.
Sofian. 2006. Sukses Membuat Kompos dari Sampah. Agromedia Pustaka.
Sudrajat. 2006. Seri Agritekno. Mengelola Sampah Kota. Penebar Swadaya
Yowono, Dipo, 2006. Kompos, Seri Agritekno. Penebar Swadaya
Selasa, 07 Oktober 2014
Makalah bahasa indonesia Sosial Budaya Masyarakat
Pengaruh Negatif Westernisasi Terhadap Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Indonesia
A. Latar Belakang
Latar belakang dibuatnya makalah dengan tema westernisasi ini karena semakin banyaknya budaya barat yang masuk ke Indonesia, semakin banyak pula pengaruh positif dan negative bagi masyarakat Indonesia. Namun, pengaruh negative lebih mempengaruhi pola hidup masyarakat Indonesia pada zaman yang serba canggih ini. Dengan banyak cara, westernisasi menggusur kepribadian suatu bangsa yang merdeka dan memiliki karakteristik yang unik. Kemudian bangsa tersebut dijadikan boneka yang meniru secara total peradaban Barat.
B. Tujuan
Tujuan dibahasnya masalah ini antara lain adalah:
- Agar kita mengetahui apa westernisasi itu sendiri
- Agar kita dapat mengerti tentang pembahasan westernisasi ini
- Agar kita bisa lebih bangga terhadap budaya bangsa kita sendiri
- Agar kita tetap mengikuti norma-norma yang ada pada budaya Timur yang dianut oleh bangsa kita Indonesia.
- Agar kita tidak terlalu menerapkan seluruh pola hidup Negara Barat yang tidak sesuai dengan budaya Timur yang dianut oleh bangsa Indonesia ini.
II. Permasalahan
1. Pudarnya rasa bangga masyarakat Indonesia terhadap kebiasaan dan adat bangsa Indonesia.
2. Generasi muda saat ini banyak yang berpendapat bahwa kebudayaan orang-orang Barat lebih menarik daripada kebudayaan Indonesia itu sendiri.
3. Warga Indonesia banyak yang menyalahgunakan produk industri yang meniru peradaban Barat.
4. Masyarakat Indonesia khususnya remaja mulai menerapkan gaya hidup individualis seperti gaya hidup orang-orang Barat.
III. Pembahasan
1. Masyarakat di Indonesia, terutama para generasi muda saat ini banyak yang beranggapan bahwa kebiasaan dan adat di Indonesia ini telah ketinggalan zaman sedangkan budaya Barat itu lebih keren dan modern. Generasi kita terlalu bangga dengan kebiasaan dan adat orang-orang dari Negara Barat. Sementara dengan adat sendiri malu apabila menunjukkan adat tersebut di depan umum. Hal ini dapat dicegah atau dapat diminimalisir jika masyarakat Indonesia lebih pandai menyaring dampak positif dan negative dari budaya barat itu sendiri.
2. Generasi muda saat ini banyak yang berpendapat bahwa kebudayaan orang-orang Barat lebih menarik daripada kebudayaan Indonesia itu sendiri. Padahal banyak orang-orang dari Negara lain yang tertarik untuk mempelajari dan mendalami budaya Indonesia yang unik dan beraneka ragam ini. Kenapa kita malah kurang berminat dalam mempelajari budaya kita bahkan lebih sering meng-update tentang mode terbaru ala budaya Barat? Apabila warisan kepribadian bangsa tersebut dilestarikan, maka sesungguhnya akan memberikan suatu nilai lebih bagi kehidupan bangsa Indonesia dibandingkan dengan Negara lain.
3. Minimnya perhatian pemerintah serta tersebar luasnya budaya Barat melalui media-media baik cetak maupun elektronik yang menonjolkan budaya-budaya barat juga menimbulkan dampak negative dari westernisasi. Sebagai contoh warga Indonesia sendiri banyak yang menyalahgunakan produk industri, misalnya thank top yang diluar negeri digunakan pada musim panas, akan tetapi di Indonesia malah digunakan untuk bergaya di depan umum. Hal ini terjadi karena masyarakat Indonesia latah terhadap perubahan. Mereka menganggap pakaian produksi Negara Barat tersebut sesuai dengan budaya Timur yang dianut oleh bangsa kita Indonesia.
4. Masalah norma berperilaku dalam kehidupan masyarakat, kita tahu bahwa orang Jawa terkenal dengan “unggah-ungguhnya” apabila bertemu dengan orang lain, namun di era modernisasi ini orang-orang semakin jarang melakukannya. Banyak diantara mereka yang justru cuek bebek dan selalu menunjukkan bahwa seolah-olah orang itu hidup sendirian (individualis), padahal kita tahu sikap dan gaya individualis adalah gaya-gaya orang barat, dan tidak sesuai dengan budaya Timur Negara kita.
Pengaruh Westernisasi terhadap Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Indonesia
Perubahan sosial dapat diartikan perubahan yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda yang ada dalam kehidupan sosial sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan yang tidak serasi fungsinya bagi masyarakat yang bersangkutan. Sedangkan yang dimaksud perubahan budaya adalah perubahan yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian diantara unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga tercapai keadaan yang tidak serasi fungsinya bagi kehidupan.
Westernisasi adalah sebuah arus besar yang mempunyai jangkauan politik, sosial, budaya, dan teknologi. Arus ini bertujuan mewarnai kehidupan sehari-hari bangsa-bangsa dengan gaya Barat.
Westernisasi di Indonesia menurut kami merupakan suatu masalah yang perlu dicermati bersama karena menyebabkan perubahan terhadap masyarakat multicultural Indonesia yang semakin lupa akan nilai luhur, budaya, norma adat-istiadat yang sejujurnya merupakan warisan kepribadian bangsa Indonesia asli berasal dari nenek moyang kita terdahulu.
Sekarang ini begitu banyak generasi bangsa Indonesia yang bersikap “kebarat-baratan”, kini jati diri bangsa hanya tampak pada sebagian kecil kelompok masyarakat.
Masyarakat Indonesia seringkali latah menanggapi perubahan. Sebagian dari mereka terlalu cepat menganggap bahwa semua perubahan adalah perubahan positif yang harus ditiru. Tanpa menghiraukan dampak negatifnya.
Masyarakat harus bisa mengambil hal-hal yang baik dari suatu budaya asing serta membuang hal-hal buruk dari budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian maupun jati diri bangsa kita.
Langganan:
Postingan (Atom)


.png)
