MAKALAH
TEKNOLOGI FARMASI SEDIAAN PADAT
NAMA
NIM
KEL.PRAKTIKUM/KELAS
JUDUL :
:
:
:
PEMBUATAN CANGKANG KAPSUL DENGAN BAHAN ALGINAT
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2013
Daftar isi
PENDAHULUAN
• Latar belakang .............................................................................3
• Rumusan masalah..........................................................................3
TINJAUAN PUSTAKA
• Kapsul...........................................................................................4
• Stabilitas kapsul............................................................................4
• Alginat..........................................................................................4
• Gel................................................................................................5
• Ponceau 4R.................................................................................. 5
METODOLOGI PENELITIAN
• Alat –alat .....................................................................................7
• Bahan-bahan.................................................................................7
• Pembuatan cangkang kapsul kalsium alginat...............................7
PENGUJIAN
• Uji Waktu Hancur (Disintegrasi).........................................................8
• Penentuan Spesifikasi Cangkang Kapsul.............................................8
• Pengukuran Panjang dan Diameter Cangkang Kapsul Panjang dan....8 diameter cangkang kapsul diukur menggunakan jangka sorong.
• Pengukuran Ketebalan Cangkang Kapsul............................................8
• Penimbangan Berat Cangkang Kapsul.................................................8
• Penimbangan Volume Cangkang Kapsul.............................................8
• Penimbangan Warna Cangkang Kapsul...............................................8
• Uji kadar uap air...................................................................................9
• Uji kekerasan .......................................................................................9
• Uji stabilitas .........................................................................................9
PENUTUP
• Kesimpulan....................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin; tetapi dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai. (Ditjen POM,1995)
Kapsul keras biasanya terbuat dari gelatin yang terdiri dari cangkang kapsul bagian badan dan bagian tutup kapsul. Kedua bagian tutup kapsul ini akan saling menutupi bila dipertemukan dan bagian tutupnya akan menyelubungi
bagian badan kapsul. (Ansel, 2005).
Gelatin mempunyai beberapa kekurangan, seperti mudah mengalami peruraian oleh mikroba bila dalam keadaan lembab atau bila disimpan dalam larutan berair . Sebagai contoh yang lain, cangkang kapsul gelatin menjadi rapuh jika disimpan pada kondisi kelembaban relatif yang rendah (Chang, R.K. et al, 1998). Selanjutnya, Kapsul gelatin tidak dapat menghindari efek samping obat yang mengiritasi lambung, seperti Indometasin. Hal ini dikarenakan kapsul gelatin segera pecah setelah sampai di lambung.
Belakangan ini, beberapa bahan telah diuji untuk digunakan sebagai bahan alternatif gelatin sebagai bahan untuk pembuatan cangkang kapsul, salah satunya adalah dengan alginat. Dimana alginat memiliki beberapa kelebihan dibandingkan gelatin. Pemilihan alginat didasarkan pada laporan sebelumnya yaitu secara klinis alginat mempunyai kemampuan melindungi permukaan mukosa lambung dari iritasi (Shiraishi, et al., 1991) dan relatif lebih tahan terhadap penguraian mikroba dibandingkan gelatin.
1.2 Rumusan masalah
• Apa itu sediaan kapsul ?
• Bagaimanakah peruntukkan dan stabilitas sediaan kapsul ?
• Mengapa alginat dipilih sebagai bahan utama pembuatan cangkang
Kapsul ?
• Apa kelebihan alginat ?
• Bagaimana cara pembuatan cangkang kapsul ?
• Apa saja evaluasi yang dilakukan terhadap cangkang kapsul setelah
dibuat ?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kapsul
Kapsul dapat didefinisikan sebagai bentuk sediaan padat, dimana satu macam obat atau lebih dan/atau bahan inert lainnya yang dimasukkan ke dalam cangkang atau wadah kecil yang dapat larut dalam air. Pada umumnya cangkang kapsul terbuat dari gelatin. Tergantung pada formulasinya kapsul dapat berupa kapsul gelatin lunak atau keras. Bagaimana pun, gelatin mempunyai beberapa kekurangan, seperti mudah mengalami peruraian oleh mikroba bila menjadilembab atau bila disimpan dalam larutan berair. (Ansel, H.C., 2005)
Kapsul tidak berasa, mudah pemberiannya, mudah pengisiannya tanpa persiapan atau dalam jumlah yang besar secara komersil. Didalam praktek peresepan, penggunaan kapsul gelatin keras diperbolehkan sebagai pilihan dalam meresepkan obat tunggal atau kombinasi obat pada perhitungan dosis yang dianggap baik untuk pasien secara individual. Fleksibilitasnya lebi menguntungkan daripada tablet. Beberapa pasien menyatakan lebih mudah menelan kapsul daripada tablet, oleh karena itu lebih disukai bentuk kapsul bila memungkinkan. Pilihan ini telah mendorong pabrik farmasi untuk memproduksi sediaan kapsul dan dipasarkan, walaupun produknya sudah ada dalam bentuk sediaan tablet.
2.2 Stabilitas Kapsul
Perlu diketahui bahwa cangkang kapsul bukan tidak reaktif, secara fisika atau kimia. Perubahan kondisi penyimpanan seperti temperatur dan kelembaban dapat mempengaruhi sifat kapsul. Dengan terjadinya kenaikan temperatur dan kelembaban dapat menyebabkan kapsul menyerap / melepaskan uap air. Sebagai akibatnya kapsul dapat menjadi rapuh atau lunak.
2.3 Alginat
Natrium alginat merupakan produk pemurnian karbohidrat yang diekstraksi dari alga coklat (Phaeophyceae) dengan menggunakan basa lemah. Natrium alginat larut dengan lambat dalam air, membentuk larutan kental; tidak larut dalam etanol dan eter. Alginat (gambar 2.1) ini diperoleh dari spesies Macrocystis pyrifera, Laminaria, Ascophyllum dan Sargassum.
Asam alginat tidak larut dalam air, karena itu yang digunakan dalam industri adalah dalam bentuk garam natrium dan garam kalium. Salah satu sifat dari natrium alginat adalah mempunyai kemampuan membentuk gel denganpenambahan larutan garam-garam kalsium seperti kalsium glukonat, kalsiu tartrat dan kalsium sitrat. Pembentukan gel ini disebabkan oleh terjadinya kelat antara rantai L-guluronat dengan ion kalsium.
2.4 Gel
Gel bisa digolongkan baih dalam sistem dua fase atau dalam sistem satu fase. Struktur gel dalam sistem dua fase ini tidak selalu stabil. Gel-gel tersebut mungkin tiksotropik yang mmbentuk massa setengah padat pada pendiaman dan menjadi cairan jika dikocok.
Sebaliknya, suatu gel mungkin terdiri dari makromolekul-makromolekul yang berupa jalinan/ anyaman benag-benang. Unit-unit tersebut seringkali terikat bersama-sama dengan gaya van der walls yang lebih kuat sehingga membentuk daerah kristal dan daerah amorf diseluruh sistem tersebut. Gel seperti ini dianggap sebagai sistem satu fase, karena tidak ada batas-batas yang jelas antara makromolekul terdispers dan cairan.
Gel dapat dibagi menjadi dua golongan, yakni : gel anorganik dan gel organik. Gel anorganik umumnya merupakan sistem dua fase, sedangkan gel organik merupakan sistem satu fase, karena matriks padat dilarutkan dalam cairan membentuk suatu campuran gelatin yang homogen
2.5 Ponceau 4R
Warna, merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi penilaian konsumen terhadap kualitas produk. Warna suatu bahan dapat berasal dari warna alamiahnya atau warna yang terjadi selama proses pengolahannya. Temperatur dan kadar uap air yang relatif tinggi selama proses pengolahan dan penyimpanan yang berkepanjangan merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan terjadinya reaksi pengcoklatan (enzimatik dan non-enzimatik)
Ponceau 4R adalah pewarna sintetis yang dapat ditambahkan pada makanan. Ponceau 4R adalah pewarna azo merah yang dapat digunakan dalam berbagai produk makanan (Anonim, 2010). Karena zat warna umumnya berada dalam konsentrasi kecil/ rendah, zat warna ini harus terlebih dahulu dilarutkan dalam sejumlah kecil pelarut sebelum dicampurkan dengan sediaan yang dibuat. Hal ini akan menjamin semua zat warna berada dalam keadaan terlarut sebelum proses selanjutnya.
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
. 3.1 Alat-alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan analitis, Oven, Higrometer, termometer, climatic chamber, disintegration tester , pHmeter , anak timbangan 50 g dan 2 kg, desikator, jangka sorong, mikrometer, penunjuk waktu (stopwatch), water bath, alat pencetak kapsul yang terbuat dari batang stainless steel berbentuk silindris dengan panjang 10 cm serta berdiameter 7,5 mm untuk bagian badan cangkang kapsul dan 8,0 mm untuk bagian tutup cangkang kapsul, cawan petri, cawan penguap, bola besi, labu tentukur, beaker glass, gelas ukur, dan botol timbang.
3.2 Bahan-bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Natrium alginat, Ponceau 4R, Titanium dioksida, Gliserin, Kalsium klorida anhidrat, Kalsium klorida dihidrat, HCL, Natrium fosfat, , Silika gel, Alkohol 96% dan Aquades.
3.3.2 Pembuatan cangkang kapsul kalsium alginat
Larutan CaCl2 1 M yang mengandung Ponceau 4R
Kalsium klorida dihidrat (CaCl2 • 2H2O) sebanyak 147,02 g dilarutkan dalam 1000 ml aqua bebas CO2 lalu ditambahkan 2 g ponceau 4R.
3.3.2.1 Pembuatan larutan cangkang alginat
Formula:
Alginat 500-600 cp 5 g
Ponceau 4R 200 mg
TiO2 50 mg
Gliserin 2 g
Aquadest 98 ml
Gliserin dicampur dengan air dan dicukupkan volumenya dengan air sampai 100 ml. Kemudian dimasukan pewarna ponceau 4R dan titanium dioksida kedalam larutan tersebut, diaduk hingga larut.Kemudian diatas larutan tersebut ditebar serbuk alginat, didiamkan selama 30 menit terlebih dahulu baru diaduk hingga homogen. Larutan didiamkan selama beberapa hari sampai tidak ada lagi gelembung udara. Catatan : Sebelum pembuatan, semua alat, wadah dan air yang digunakan disterilkan terlebih dahulu dengan cara direbus.
3.3.2.2 Pembuatan Badan Cangkang Kapsul Kalsium Alginat
Alat pencetak kapsul dibuat dari bahan stainless steel dengan panjang 10 cm diameter 7,5 mm dicelupkan ke dalam larutan natrium alginat yang mengandung ponceau 4R sedalam 3 cm, kemudian batang stainless steel yang ujungnya telah dilapisi larutan alginat yang mengandung ponceau 4R tersebut direndam dalam larutan kalsium klorida 1 M (CaCl2 yang mengandung ponceau 4R) selama 30 menit dan diaduk dengan bantuan pengaduk magnet. Setelah itu cangkang kapsul yang telah mengeras direndam dalam aquadest (aquadest yang mengandung ponceau 4R) selama satu hari untuk menghilangkan kalsium yang menempel pada cangkang kapsul dan selanjutnya dikeringkan.
3.3.2.3 Pembuatan Tutup Cangkang Kapsul Kalsium Alginat
Alat pencetak kapsul dibuat dari bahan stainless steel dengan panjang 10 cm diameter 8,0 mm dicelupkan ke dalam larutan natrium alginat yang mengandung ponceau 4R sedalam 2,5 cm, kemudian batang stainless steel tersebut yang ujungnya sudah dilapisi larutan alginat yang mengandung ponceau 4R tersebut direndam dalam larutan kalsium klorida 1 M (CaCl2 yang mengandung ponceau 4R) selama 30 menit dan diaduk dengan bantuan pengadukmagnet. Setelah itu cangkang kapsul yang telah mengeras direndam dalam aquadest (aquadest yang mengandung ponceau 4R) selama satu hari untuk menghilangkan kalsium yang menempel pada cangkang kapsul dan selanjutnya dikeringkan.
3.3.2.5 Pengeringan Cangkang Kapsul Kalsium Alginat
Ponceau 4r Pengeringan cangkang kapsul dilakukan dengan cara membiarkannya kering di udara terbuka selama 2 hari. Cangkang kapsul dikatakan kering apabila cangkang kapsul tidak basah lagi dan warnanya telah berubah dari merah menjadi merah gelap
BAB IV
PENGUJIAN
4.1 Uji Waktu Hancur (Disintegrasi)
Bola besi berdiameter 2,94 mm dimasukkan ke dalam kapsul sehingga kapsul dapat tenggelam dalam medium. Cangkang kapsul dimasukkan dalam tiap tabung dari keranjang yang dapat dinaik-turunkan kemudian dijalankan alat dalam medium HCl 0,1 N bersuhu 37±2oC selama 2 jam. Kemudian dilanjutkan dalam medium dapar fosfat pH 6,8 bersuhu 37±2oC selama 1 jam. Kapsul memenuhi persyaratan apabila :
a) Dalam medium HCl 0,1 N tidak ada kapsul yang pecah. Bila 1 atau 2 kapsul pecah, diulangi pemeriksaan menggunakan 12 kapsul tambahan. Persyaratan terpenuhi apabila tidak kurang dari 16 dari 18 kapsul yang diuji tidak pecah.
b) Dalam medium dapar fosfat pH 6,8, semua kapsul pecah semua.
4.2 Pengukuran Panjang dan Diameter Cangkang Kapsul Panjang dan diameter cangkang kapsul diukur menggunakan jangka sorong.
4.3 Pengukuran Ketebalan Cangkang Kapsul
Ketebalan cangkang kapsul diukur menggunakan mikrometer. Pengukuran dilakukan 5 kali untuk masing-masing sampel, satu kali di pusat dan 4 kali diperimeter sekitarnya, kemudian diambil rata-ratanya.
4.4 Penimbangan Berat Cangkang Kapsul
Berat cangkang kapsul ditimbang dengan neraca analitik.
4.5 Pengamatan Warna Cangkang Kapsul
Warna cangkang kapsul diamati secara visual
4.6 Pengukuran Volume Cangkang Kapsul
Pengukuran volume cangkang kapsul dilakukan dengan menggunakan buret dimana cangkang kapsul diisi dengan air sampai penuh.
4.7 Uji Kadar Uap Air
Dengan pemanasan pada suhu 105Oc. Cangkang kapsul ditimbang dan dimasukkan ke dalam botol timbang. Kemudian dimasukkan ke dalam oven sambil dibuka tutup botol timbang tersebut. Panaskan pada suhu 1100C sampai diperoleh berat konstan. Pada waktu oven dibuka, botol timbang segera ditutup dan biarkan dalam desikator sampai suhunya mencapai suhu kamar sebelum ditimbang kembali cangkang kapsul. Berat kapsul dikatakan konstan apabila perbedaan dua kali penimbangan berturut-turut tidak
4.8 Uji kekerasan kapsul
Cangkang kapsul berisi (Uji Ketahanan terhadap Tekanan) Cangkang kapsul diisi dengan amilum manihot, kemudian ditekan denganbeban 2 kg. Diamati kerapuhan kapsul. Uji ini dilakukan terhadap 6 kapsul.
4.9 Uji kekerasan kapsul kosong
Cangkang kapsul kosong dijatuhkan beban seberat 50 g dari ketinggian 10cm. Diamati kerapuhan kapsul. Uji ini dilakukan terhadap 6 kapsul
4.10 Uji stabilitas
Penyimpanan pada Suhu Kamar Cangkang kapsul disimpan dalam botol pada suhu kamar ( 25±20oC, RH 60±5%). Setelah 3 bulan cangkang kapsul dikeluarkan dan dilakukan pengujian
BAB 5
PENUTUP
Natrium alginat merupakan produk pemurnian karbohidrat yang diekstraksi dari alga coklat (Phaeophyceae) dengan menggunakan basa lemah. Natrium alginat larut dengan lambat dalam air, membentuk larutan kental; tidak larut dalam etanol dan eter
Alginat memiliki beberapa kelebihan dibandingkan gelatin. Pemilihan alginat didasarkan pada laporan sebelumnya yaitu secara klinis alginat mempunyai kemampuan melindungi permukaan mukosa lambung dari iritasi (Shiraishi, et al., 1991) dan relatif lebih tahan terhadap penguraian mikroba dibandingkan gelatin.
Setelah cangkang kapsul dibuat dan dikeringkan, maka cangkang kapsul harus memenuhi uji evaluasi yang terdiri antara lain : uji waktu hancur, kekerasan, uji bobot konstan, uji kadar air, uji stabilitas, dll yang prosedurnya hampir sama dengan prosedur evaluasi sediaan tablet , hanya saja kapsul harus memenuhi ketentuan tertentu selama pengujian agar kapsul yang dihasilkan berkualitas tinggi dan sesuai dengan prosedur yang tepat
DAFTAR PUSTAKA
Abdou,M.H (1989 ). Dissolution Bioavailability and bioequivalence. Eston : Mack printing company
Ditjen POM ( 1995 ) Farmakope Indonesia IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI
Daigo (K) (1998 ) Pharmacologycal Studys of sodium alginate 1. Protective Effect of Sodium Alginate on Mucous Membrane of Upper Gastrointestional Track
Gennaro, R.A ( 1990 ) Remington’s Pharmaceuticals Science. Edisi 18. Pensylvania : Mack Publisdhing company